Keputusan Membeli: Berdasarkan Logika atau Emosional?

“Logika ataukah emosional?”


Pertanyaan ini penting karena jawabannya akan mengubah cara Anda memasarkan produk Anda. Nah, apakah hal yang selama ini Anda yakini sudah benar? Yuk, simak ulasannya!

Coba pikir-pikir kembali, dorongan manakah yang memiliki pengaruh besar untuk Anda dalam membuat keputusan membeli barang selama ini, logika ataukah emosional? Faktanya, beberapa penelitian menunjukkan bahwa dorongan emosional memiliki peranan yang lebih besar daripada logika. Artinya, kebanyakan konsumen membuat keputusan membeli yang didasari dorongan emosional. Dari sana, kita seringkali membuat argumen untuk mendukung keputusan emosional tersebut sehingga keputusan emosional tadi terlihat logis.

Sebut saja Apple, produk eksklusif yang tetap dapat mendominasi pasar di seluruh dunia meskipun dengan harga selangit. Padahal, banyak orang menganggap dengan harga yang dibanderol Apple, konsumen dapat mendapatkan produk merek lain dengan fitur yang lebih “wah”. Namun, meskipun banyak argumen serupa yang merajalela, tetap saja produk yang dikeluarkan Apple menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu. Bahkan, banyak orang rela mengantri berjam-jam untuk menjadi yang pertama untuk memiliki produk keluaran terbarunya.

Trik apakah yang dilakukan oleh brand ternama ini sehingga memberikan pengaruh yang begitu besar kepada fansnya?

Nilai. Hal itulah yang membedakan brand raksasa ini dengan pesaingnya. Mereka tidak sekedar menjual produk mereka dengan tagline “Produk Tercanggih Sepanjang Masa.” Namun, mereka tahu alasan mereka membuat produk tersebut. Hal inilah yang sering dilupakan oleh para pelaku bisnis. Sering kali, kita berfokus untuk menjawab pertanyaan “What – apa yang kita jual”. Tidak jarang pula jawaban yang kita berikan untuk pertanyaan ini adalah karena prospek profit besar yang menggiurkan. Jika diurutkan, pola pikir ini membentuk what – how – why. Tentu cara berpikir yang demikian tidak sepenuhnya salah.

Namun, tahukah Anda bahwa otak kita berpikir dengan pola: Why, How, dan What secara berurutan. Pada stage Why, kita cenderung membangun feeling, kepercayaan, dan keputusan. Dengan kata lain, loyalitas dan keputusan dibangun pada tahapan ini, dua hal inilah yang sebenarnya diincar oleh para marketer. Logikanya sama seperti saat Anda mempekerjakan staff, akan lebih mudah mempertahankan staff yang bekerja dengan Anda karena memiliki nilai, visi, dan misi yang sama daripada mereka yang sekedar bekerja karena faktor gaji.

Hal ini lah yang membuat orang sanggup mengantri berjam-jam untuk membeli produk mahal. Bukan hanya sekedar untuk produknya, tapi nilai yang terkandung dalam produk tersebut. Buktinya, Anda banyak menemui orang yang sanggup membayar harga mahal untuk sebuah produk, bukan karena kebutuhan, namun untuk pembuktian akan loyalitas mereka pada brand tersebut. Kesimpulannya, jangan sekedar menjual produk, namun utamakan nilai yang terkandung di dalamnya.

Caranya? Berhenti untuk sekedar bertanya, “apa yang bisa saya jual?” atau “bagaimana caranya mendapatkan banyak profit?”. Namun, cobalah untuk menjawab pertanyaan berikut sebelum Anda memutuskan untuk membuat sebuah layanan jasa:

1. Kenapa saya membuat layanan jasa ini?
2. Kenapa orang-orang harus memilih jasa yang saya tawarkan?

Dengan begitu, Anda akan semakin kreatif dan menonjolkan passion Anda. Selamat mencoba, Partners!

0 0
Feed